Tampilkan postingan dengan label Biografi Para Ilmuwan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi Para Ilmuwan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Oktober 2012

Jabir Ibnu Hayyan (Bapak Kimia Islam)


Tak salah bila dunia mendapuknya sebagai bapak kimia modern. Ahli kimia Muslim terkemuka di era kekhalifahan yang dikenal di dunia Barat dengan panggilan Geber itu memang sangat fenomenal. Betapa tidak, 10 abad sebelum ahli kimia Barat bernama John Dal ton (1766-1844)? mencetuskan teori molekul kimia, Jabir Ibnu Hayyan (721 M – 815 M) telah menemukannya di abad ke-8 M. Hebatnya lagi, penemuan dan eksperimennya yang telah berumur 13 abad itu ternyata hingga kini masih tetap dijadikan rujukan. Dedikasinya dalam pengembangan ilmu kimia sungguh tak ternilai harganya. Tak heran, jika ilmuwan yang juga ahli farmasi itu dinobatkan sebagai renaissance man (manusia yang mencerahkan).

Sejatinya, ilmuwan kebanggaan umat Islam itu bernama lengkap Abu Musa Jabir Ibnu Hayyan. Asal-usul kesukuan Jabir memang tak terungkap secara jelas. Satu versi menyebutkan, Jabir adalah seorang Arab. Namun, versi lain menyebutkan ahli kimia kesohor itu adalah orang Persia.? Kebanyakan literatur menulis bahwa Jabir terlahir di Tus, Khurasan, Iran pada 721 M.

Saat terlahir, wilayah Iran berada dalam kekuasaan Dinasti Umayyah. Sang ayah bernama Hayyan Al-Azdi, seorang ahli farmasi berasal dari suku Arab Azd. Pada era kekuasaan Daulah Umayyah, sang ayah hijrah dari Yaman ke Kufah, salah satu kota pusat gerakan Syiah di Irak. Sang ayah merupakan pendukung Abbasiyah yang turut serta menggulingkan Dinasti Umayyah.

Ketika melakukan pemberontakan, Hayyan tertangkap di Khurasan dan dihukum mati. Sepeninggal sang ayah, Jabir dan keluarganya kembali ke Yaman. Jabir kecil pun mulai mempelajari Alquran, matematika, serta ilmu lainnya dari seorang ilmuwan bernama Harbi Al-Himyari.

Setelah Abbasiyah menggulingkan kekuasaan Umayyah, Jabir memutuskan untuk kembali ke Kufah. Di kota Syiah itulah, Jabir belajar dan merintis karier. Ketertarikannya pada bidang kimia, boleh jadi lantaran profesi sang ayah sebagai peracik obat. Jabir pun memutuskan untuk terjun di bidang kimia.

Jabir yang tumbuh besar di pusat peradaban Islam klasik itu menimba ilmu dari seorang imam termasyhur bernama Imam Ja’far Shadiq. Selain itu, ia juga sempat belajar dari Pangeran Khalin Ibnu Yazid. Jabir memulai kariernya di bidang kedokteran setelah berguru pada Barmaki Vizier, pada masa kekhalifahan Abbasiyah berada dibawah kepemimpinan Harun Ar-Rasyid.

Sejak saat itulah, Jabir bekerja keras mengelaborasi kimia di sebuah laboratorium dengan serangkaian eksperimen. Dalam karirnya, ia pernah bekerja di laboratorium dekat Bawwabah di Damaskus. Salah satu ciri khasnya, ia mendasari eksperimen-eksperimen yang dilakukannya secara kuantitatif. Selain itu, instrumen yang digunakan dibuat sendiri, menggunakan bahan berasal dari logam, tumbuhan, dan hewani. Saya pertama kali mengetahuinya dengan melalui tangan dan otak saya, dan saya menelitinya hingga sebenar mungkin, dan saya mencari kesalahan yang mungkin masih terpendam. Kalimat itu kerap dituliskan Jabir saat mengakhiri uraian suatu eksperimen yang telah dilakukannya.

Setelah sempat berkarier di Damaskus, Jabir pun dikabarkan kembali ke Kufah. Dua abad pasca-berpulangnya Jabir, dalam sebuah penggalian jalan telah ditemukan bekas laboratorium tempat sang ilmuwan berkarya. Dari tempat itu ditemukan peralatan kimianya yang hingga kini masih mempesona serta sebatang emas yang cukup berat.
Begitu banyak sumbangan yang telah dihasilkan Jabir bagi pengembangan kimia. Berkat jasa Jabir-lah, ilmu pengetahuan modern bisa mengenal asam klorida, asam nitrat, asam sitrat, asam asetat, tehnik distilasi, dan tehnik kristalisasi. Jabir pulalah yang menemukan larutan aqua regia (dengan menggabungkan asam klorida dan asam nitrat) untuk melarutkan emas.

Keberhasilan penting lainnya yang dicapai Jabir adalah kemampuannya mengaplikasikan pengetahuan mengenai kimia ke dalam proses pembuatan besi dan logam lainnya, serta pencegahan karat. Ternyata, Jabir jugalah yang kali pertama mengaplikasikan penggunaan mangan dioksida pada pembuatan gelas kaca.

Jabir adalah orang yang pertama kali mencatat tentang pemanasan anggur akan menimbulkan gas yang mudah terbakar. Hal inilah yang kemudian memberikan jalan bagi Al-Razi untuk menemukan etanol.

Selain itu, Jabir pun berhasil menyempurnakan proses dasar sublimasi, peng uapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan kapur, penyulingan, pencelupan, pemurnian, sematan (fixation), amalgamasi, dan oksidasi-reduksi. Apa yang dihasilkannya itu merupakan teknikteknik kimia modern.

Atas jasa dan karyanya dalam bidang kimia, Jabir Ibnu Hayyan mendapat gelar Bapak Kimia Islam Pertama. Beliau tidak hanya terkenal di negri kelahirannya, tetapi juga di wilayah lain, seperti Eropa. Disana beliau lebih dikenal dengan nama Geber.
Jabir Ibnu Hayyan juga dikenal sebagai orang pertama yang mendirikan laboratorium dan menggunakan tungku sebagai tempat mengolah mineral, mengektraksi zat-zat, sebelum kemudian mengklasifikasikan.

Tak heran, bila sosok dan pemikiran Jabir begitu berpengaruh bagi para ahli kimia Muslim lainnya seperti Al-Razi (9 M), Tughrai (12 M) dan Al-Iraqi (13 M). Tak cuma itu, buku-buku yang ditulisnya juga begitu besar pengaruhnya terhadap pengembangan ilmu kimia di Eropa. Jabir tutup usia pada tahun 815 M di Kufah.


Sumber :
http://romansakimia.blogspot.com
biografi Para Ilmuwan Muslim

Minggu, 07 Oktober 2012

Al Biruni (Ahli Penanggalan Tarikh)


Nama lengkap al Biruni adalah Abu ar Rayhan Muhammad bin Ahmad al Biruni. Ia dilahirkan di kota Bairun, sebuah kota yang menjadi wilayah Khawarizmi, Persia pada tahun 973. Keluarga al Biruni adalah berkebangsaan Iran.

Para ilmuwan modern menyebut al Biruni sebagai salah satu ilmuwan terbesar pada abad pertengahan. Ia juga dikenal sebagai sarjana yang cerdas, berbakat, dan mempunyai pikiran yang orisinil. Ia mahir matematika, astronomi, fisika, geografi, sejarah, bahasa dan budaya.

Al Biruni telah menulis banyak buku matematika dan astronomi. Bukunya yang terkenal dan terlengkap adalah kitab al Qanun al Mas’udi fil Haya wan Nujum, sebuah buku ensiklopedi astronomi, geografi dan matematika.

Selain menguasai ilmu eksakta, al Biruni juga mahir ilmu filsafat, agama dan sejarah. Para ulama Timur dan Barat menganggapnya sebagai penulis sejarah peradaban bangsa Timur yang paling detail.

Selama hidupnya, al Biruni telah menulis sejumlah karya, baik dalam bidang astronomi maupun arsitektur. Karya tersebut antara lain : Al Irsyad, Tahdid Nihayat al Amakin Litashih Masafat al Masakin, at Tafhim Liawali Sina’at at Tanjim, Istikhraj al Autar, as Saidalah, Risalah fi an Nasab Bain Ahjan al Ma’adin wa al Jawahir, dan Risalah fi an Nasab Bain al Fizat wa al Jawahir fi al Hajm. Di kemudian hari karya-karya tersebut di terjemahkan dalam berbagai bahasa, seperti : Latin, Ibrani, Itali dan Inggris. Al Biruni meninggal dunia pada tahun 1050 di Afghanistan.

Sumber : Biografi Para Ilmuwan Muslim

Al Farabi (Guru Kedua Dari Timur)


Al Farabi adalah salah seorang pemikir besar Islam yang terkenal. Nama lengkapnya adalah Abu Nasr Muhammad Ibnu Farkh al Farabi, namun lebih dikenal dengan nama al Farabiu atau Avennasar. Ia lahir pada tahun 870 di Farab, sebuah kota di Turki Tengah yang kini tidak ada lagi. Meskipun al Farabi seorang Turki, tetapi ayahnya berkebangsaan Persia. Namun begitu, karya dan pemikirannya tetap mencerminkan filosof Arab.

Para ilmuwan Barat menganggap al Farabi sebagai pendiri filsafat Arab. Mereka juga menyebut al Farabi sebagai guru kedua (the second master), sedangkan Aristoteles sebagai guru pertama (the first master).

Al Farabi mengikuti pendidikan dasar dan menghabiskan masa kanak-kanak di kota kelahirannya. Setelah itu, ia pergi ke Bukhara untuk melanjutkan sekolah. Al Farabi menempuh pendidikan tingginya di Baghdad. Di kota ini, ia belajar bahasa Arab dan Yunani untuk pertama kali. Namun ternyata al Farabi lebih tertarik pada masalah alam semesta dan manusia. Hal inilah yang membuatnya mempelajari ilmu filsafat, terutama filsafat Plato dan Aristoteles.

Selama di Baghdad, al Farabi mempelajari filsafat Aristoteles dan logika di bawah bimbingan Abu Bishr Matta Ibnu Yunus, seorang filsuf terkenal. Di sela-sela kesibukannya, ia mulai menulis sejumlah buku filsafat dan menerjemahkan karya para filosof Yunani. Ia dikenal sebagai filosof Islam pertama yang memperkenalkan filsafat Yunani pada dunia Islam. Proyek terbesar yang dilakukan al Farabi adalah menggabungkan ilmu filsafat Yunani dan syari’at Islam.

Sebagai seorang filosof muslim, al Farabi menggunakan segenap kemampuan akalnya untuk mencapai kebenaran yang hakiki. Ia berusaha menggapai Islam yang sempurna. Oleh Karena itu, menurut al Farabi, filsafat dan agama adalah dua hal yang bersesuaian. Keduanya merupakan jalan untuk mencari kebenaran. Kebenaran filsafat tidak akan bertentangan dengan kebenaran agama, namun keduanya mempunyai metode yang berbeda. Filsafat berupaya mencapai kebenaran dengan metode penalaran dan argument yang logis. Sementara agama berangkat dari keimanan dan kepasrahan jiwa.

Sumber : Biografi Para Ilmuwan Muslim

Ibnu Rusyd (Perintis Ilmu Jaringan Tubuh)


Ibnu Rusyd adalah seorang ilmuwan muslim yang cerdas dan menguasai banyak bidang ilmu, seperti Al Qur’an, fisika, kedokteran, biologi, filsafat dan astronomi. Ibnu Rusyd lahir pada tahun 1198 di Kordoba, Spanyol. Di Barat, ia dikenal dengan nama Averroes. Ibnu Rusyd adalah seorang tokoh perintis ilmu jaringan tubuh (histology). Ia pun berjasa dalam bidang penelitian pembuluh darah dan penyakit cacar.

Ibnu Rusyd dapat digolongkan sebagai seorang ilmuwan yang multitalenta. Sebagai seorang ahli filsafat, ia juga dikenal sebagai pakar di bidang kedokteran, sastra, logika, ilmu pasti, dan ilmu agama. Sehubungan dengan itu, ia sangat menguasai tafsir Al Qur’an dan Hadist, dan juga ilmu hukum dan fiqih.

Disela-sela kesibukannya sebagai dokter dan hakim agung, Ibnu Rusyd menyempatkan diri untuk menulis. Ia menghasilkan lebih dari dua puluh buku kedokteran. Salah satunya adalah al Kulliyyat fi at Tibb.

Ibnu Rusyd juga seorang ahli filsafat yang cerdas. Pada masa itu, buku-buku Aristoteles yang diterbitkan masih sangat sedikit dan sulit dipahami. Menyadari hal tersebut, bahkan melengkapinya. Ibnu Rusyd juga menerjemahkan dan melengkapi sejumlah karya para pemikir Yunani lain, seperti Plato yang mempunyai pengaruh selama berabad-abad.

Dibidang ilmu agama, Ibnu Rusyd menghasilkan sejumlah karya, seperti Tahafut al Tahaful, sebuah kitab yang menjawab serangan Abu Hamid al Ghazali terhadap para filsuf terdahulu. Sebagai seorang ahli ilmu agama dan filsafat, Ibnu Rusyd dianggap cukup berhasil mempertemukan hikmah (filsafat) dengan syari’at (agama dan wahyu).

Sumber : Biografi Para Ilmuwan Muslim



PERHATIAN !!!

Jika ada link download yang rusak, mohon tinggalkan komentar di GUEST BOOK yang ada di sebelah kanan anda.